MOHAMMAD
SYAFEI SEBAGAI TOKOH PEMIKIR PENDIDIKAN
A.
Biografi Mohammad Syafe’i
Mohammad Syafei adalah seorang berdarah Minang yang dilahirkan di
Kalimantan Barat. Ia dilahirkan tepatnya didaerah Natan tahun 1895. Ayahnya
bernama Mara Sutan dan Ibunya Khadijah (Sukardjo,2013:100). Syafe’I
berhasil menamatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat pada tahun 1908.
Kemudian ia pun meneruskan pendidikannya ke Sekolah Raja (Sekolah Guru) dan
lulus pada tahun 1914. Perjalanan hidup
mengharuskan dirinya hijrah ke Jakarta dan menjadi guru pada sekolah Kartini
selama 6 tahun (Sukardjo,2013:101).
Disela-sela
menyelesaikan pendidikannya, Syafei menyempatkan diri juga untuk belajar
menggambar. Tahun 1916 menempuh ujian untuk menjadi guru gambar pada sekolah
lanjutan tingkat pertama dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Syafei
merupakan anak Indonesia yang pertama yang mendapatkan ijazah tersebut, dan
bahkan saat menyerahkan hasil ujian, juru bicara penguji berkata: ”Hasil
pekerjaan ini sangat baik, seandainya tuan adalah orang Belanda tuan akan
mendapatkan nilai 9 atau 10 tetapi karena tuan bangsa pribumi kami berikan
nilai 8 untuk tuan” (Teaguh Triwiyanto, Jurnal IPI). Ia juga aktif dalam
Pergerakan Budi Utomo serta membantu Pergerakan Wanita Putri Merdeka.
Pada
tanggal 31 Mei 1922 Mohammad Syafei berangkat ke negeri Belanda untk menempuh
Pensisikan atas bianyanya sendiri. Beliau belajar selama tiga tahun dan
memperdalam Ilmu music, menggabbar, pekerjaan tangan, sandiwara, termasuk
memperdalam pendidikan dan keguruan. Pada tahun 1925, beliau kembali ke
Indonesia untuk mengabdikan Ilmu pengetahuannya dengan mengelola sebuah sekolah
yang kemudian dikenal sekolah INS sebuah lembaga pendidikan yang merupakan
akronim dari Indonesische Nederlandsche School. Cikal
bakal sekolah ini adalah milik jawatan kereta api yang dipimpin oleh ayahnya
yang pada tanggal 31 Oktober 1926 diserahkan kepada M. Syafei untuk dikelola. Akibat kemampuan Syafei mengelola sekolah ini kemudian
sekolah ini tersohor dengan nama Ruang Pendidikan Indonesische Nederlandsche
School (RP INS) Kayutanam. Tujuan utama Syafei mendirikan INS adalah
untuk mendidik anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan
jiwa yang merdeka. Dengan berdirinya sekolah ini, berarti ia menentang
sekolah-sekolah Hindia-Belanda yang hanya menyiapkan anak-anak untuk menjadi
pegawai-pegawai mereka saja (Sukardjo,2013:101).
B.
Pemikiran Mohammad Syafe’i
Kajian mengenai ilmu pendidikan saat itu
sedang mekar-mekarnya pandangan progresivisme ke arah pragmatisme, yang percaya
bahwa tujuan jangka panjang pendidikan yaitu untuk melestarikan dan memperbaiki
tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar anak didik sebagaimana caranya
menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif.
Pandangan progresivisme dan pragmatisme sering diidentifikasikan sebagai aliran
liberalisme pendidikan. O’neil (2002:109) menyatakan liberalisme pendidikan ini
berbeda-beda dalam hal intensitasnya, dari yang relatif lunak, yaitu liberalisme
metodis yang diajukan oleh teoritisi seperti Maria Montessori, ke liberalisme
direktif (liberalisme yang bersifat mengarahkan) yang barangkali paling
sarat dengan muatan filosofi John Dewey hingga ke liberalisme nondirektif,
atau liberalisme faire (liberalisme tanpa pengarahan) yang merupakan
sudut pandang A.S. Neill atau Carl Rogers. Situasi historis, struktural,
dan biografis seperti di atas Muhammad Syafei menjalani hari-hari
mengkaji ilmu dan bergulat dengan alam pikirannya sendiri. Pada saatnya nanti,
pemikiran dan praksis pendidikannya masih sangat sesuai dengan kondisi
kekiniaan Indonesia. Masa pergerakan yang menjadi semangat zaman Syafei tidak
kehilangan momentum pada saat ini, pemikiran mengenai penumpuhan budi pekerti
anak didik hampir selalu menjadi cita-cita dan pemantik diskursus pendidikan.
Kertas kerja ini berusaha memposisikan Syafei sebagai salah satu tonggak yang
menancap kuat dan dalam pada alam pikir pendidikan Indonesia – pengusung kredo
manusia merdeka berpikir dan menolak manusia priyayi elit – memberikan pandu bagaimana
anak didik memperoleh pengetahuan bermanfaat. Anak didik yang berdiri dengan
kepala tegak dengan inovasi dan kreativitas –otak, tangan, dan hati (jiwa) yang
sepenuh-penuhnya berkembang – bukan manusia priyayi elit yang sebenarnya hanya
menghamba ke tuannya saja, tidak merdeka (Teaguh Triwiyanto, Jurnal IPI).
Cara-cara
yang digunakan Syafei mirip dengan perkembangan teori pendidikan saat ini,
praktik pendidikan yang diterapkan dalam pembelajaran untuk mengoptimalkan kemampuan anak didik. Untuk melakukan
pengembangan budi pekerti, manusia merdeka berpikir, Syafei merumuskan
kurikulum INS Kayutanam ke dalam tiga bidang pengajaran, yaitu akademik (otak),
kreatifitas (tangan) dan akhlak mulia (hati). Bidang akademis, anak didik
dibekali pengetahuan umum layaknya sekolah biasa, meski lebih ditekankan pada
penguasaan materi dan aplikasi di lapangan. Sementara itu, bidang kreatifitas
dibagi lagi menjadi beberapa subbidang ketrampilan seperti pertukangan,
keramik, kriya, seni ukir, seni lukis, sanggar musik, teater, sastra, dan
beberapa ketrampilan lainnya. Sedangkan hal-hal yang menyangkut kecerdasan
spiritual, diramu dan diaplikasikan dalam bidang akhlak mulia (Teaguh
Triwiyanto, Jurnal IPI).
Untuk
mengetahui lebih dalam terkait dengan ruang pendidikan RP INS Kayutanam,
berikut akan disampaikan beberapa landasan, asas, tujuan dari pendidikan RP INS
Kayutanam bagi Penyelenggaraan Pendidikan (Sukardjo,2013:103-107).
1.
Landasan Penyusunan Kurikulum RP INS Kayutanam
a.
Landasan Ideal
Pancasila
yang merupakan sumber hukum dan digali dari kebudayaan-kebudayaan yang tumbuh
dan berkembang di tanah air Indonesia.
b.
Landasan
Konstitusional
Sebagaimana tujuan dari
landasan pendidikan Indonesia yang tertuang dalam RP INS Kayutanam ada dalam
pembukaan UUD 1945 alenia ke-4.
c.
Landasan
Operasional
Landasan Operasional
sudah tertuang dalam GBHN yang merupakan rintisan dari RP INS Kayutanam yang
direalisasikan dalam bentuk Sisdiknas, yakni membentuk watak bangsa Indonesia
seutuhnya.
d.
Kurikulum
Dalam kurikulum yang
dikembangkan oleh RP INS Mohammad Syafei , yakni kurikulum pendidikan dasar
yang tahun awalnya berupa pendidikan pra-sekolah. Dari segi tujuan operasional
pendidikan kurikulumnya terdiri dari pendidikan umum dan kejuruan yang berpusat
pada pekerjaan tangan.
2.
Asas Pendidikan INS Kayutanam
a.
Berpikir logis dan rasional
b.
Keaktifan atau kegiatan
c.
Pendidikan masyarakat
d.
Memperhatikan pembawaan anak
e.
Menentang intelektualisme
3.
Tujuan Pendidikan INS Kayutanam
a.
Mendidik rakyat kearah kemerdekaan
b.
Member pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
c.
Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat
d.
Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani bertanggung
jawab
e.
Mengusahakan kemandirian dalam pembiayaan.
Dasar-dasar tersebut kemudian disempurnakan dan mencakup berbagai hal,
seperti: syarat-syarat pendidikan yang efektif, tujuan yang ingin dicapai, dan
sebagainya.
Adapun model sekolah yang di kembangkan oleh Mohammad Syafei di
Pendidikan INS diatur sebagai berikut (Sukardjo,2013:108).
1.
Sekolah itu bebrbentuk asrama, anak-anak hidup bersama-sama melalui
bekerja nyata atau belajar melalui bekerja.
2.
Belajarnya diatur, sebagian belajar teori dan sebagiannya lagi
belajar praktik.
3.
Ada bermacam-macam perlengkapan belajar (Tanah dan alat bercocok
tanam, alat-alat tukang kayu, menganyam, mengolah karet, perlengkapan tukang
besi, lapangan olahraga, dsb.)
Di
samping bekerja, anak-anak juga berupaya mencari uang sendiri dengan cara
menjual barang-barang hasil karya sendiri, berkoperasi, dan mengadakan pentas
seni keliling. Dengan cara ini mereka dapat menghidupi diri sendiri, yang
secara tidak langsung menghidupi sekaligus membiayai organisasi.
C.
Referensi
Sukardjo,M. 2013. Landasan Pendidikan Konsep dan AplikasinyaI. Jakarta:
PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Triwiyanto, Teguh.
Jurnal Pendidikan Universitas Negeri Malang Jurusan Administrasi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan.
0 komentar:
Posting Komentar