Filosofi Benda Bersejarah di Masjid Agung Demak
Bangunan bersejarah yang terdapat di
Masjid Agung Demak tentunya banyak
sekali dari berbagai macam. Uniknya bagunan-bangunan tersebut memiliki makna
atau maksud masing-masing.
1.
Gambar Bulus
Filosofi dari gambar bulus adalah nek mlebu masjid sing alus,
maksudnya disini adalah jika memasuki masjid harus memiliki etika sopan santun
dan mematuhi aturan – aturan yang ada di masjid tersebut. Gambar bulus ini
merupakan Candra Sengkala Memet,
dengan arti Sariro Sunyi Kiblating
Gusti yang bermakna 1401
Saka. Gambar bulus terdiri atas
kepala yang berarti angka satu, 4 kaki berarti angka 4, badan bulus berarti
angka nol, ekor bulus berarti angka satu.
Dari simbol ini di perkirakan masjid agung Demak berdiri pada tahun
1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shafar. Dan pada tahun 1401 Saka
atau 1479 M iniliah masjid agung Demak diresmikan berkenaan dengan pelantikan
Sultan Raden Patah.
2.
Atap Masjid
Filosofi dari Atap Masjid adalah bangunannya berbentuk limas
dan terdiri dari tiga tingkatan yang
memiliki makna sebagai berikut:
a.
Tingkatan
pertama (bawah) disebut iman
b.
Tingkatan
kedua (tengah) disebut islam
c.
Tingkatan
ketiga (atas) disebut ikhsan
3.
Mustaka
Filosofi Mustaka yaitu melambangkan ma’rifat (pengenalan terhadap
sifat-sifat Allah SWT). Bentuknya adalah seperti daun pohon sukun sama dengan
bentuk mustaka di masjid-masjid Jawa lainnya yang mencerminkan akulturasi
dengan Kebudayaan Hindu.
4.
Maksurah
Maksurah adalah bangunan kecil yang terlatak disebelah
kiri pengimaman atau mihrab. Maksurah berfungsi sebagai tempat shalat raja atau
penguasa. Terbuat dari kayu jati yang diletakkan diatas landasan pasangan bata.
Dilengkapi pula dengan pintu masuk dari sisi utara yang berukuran 67x156 cm.
Filosofi Maksurah adalah didalamnya berukirkan tulisan arab yang
intinya memulyakan ke-Esaan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut
angka tahun 1287 H atau 1866 M dimana saat itu adipati Demak dijabat oleh
K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.
5.
Pintu Bledheg
Pintu yang dipercaya dapat menangkal
petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi
Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Filosofi dari pintu bledheg ini adalah nek
mlebu masjid ojo nganggo suoro banter koyo bledheg, maksudnya disini adalah
jika kita memasuki masjid jangan berbicara dengan nada yang keras seperti
petir. Ki Ageng Selo memiliki nama asli Syech Abdurrahman, makam beliau berada
di Kabupaten Grobogan Kediri.
6.
Jendela Masjid
Jendela masjid berjumlah enam buah yang memiliki makna Rukun Iman
itu jumlahnya ada 6 yaitu : Iman kepada Allah, Iman kepada
Malaikat-malaikatNya, Iman kepada Rosul-rosulNya, Iman kepada Kitab-kitabNya,
Iman kepada Hari Kiamat, Iman Kepada Qodlo’ dan Qodar.
7.
Soko Tatal/ Soko Guru
Soko Tatal / Soko Guru, yang berjumlah
empat merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga.
Filosofi soko guru berjumlah empat adalah karena mazhab saat ini adalah
berjumlah empat yaitu mazhab Syafi`i, Maliki, Hambali, dan Hanafi. Masing –
masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm, formasi tata letak soko guru di
pancangkan pada empat penjuru mata angin.
a. Barat Laut : Sunan Bonang
b. Barat Daya : Sunan Gunung Jati
c. Tenggara :
Sunan Ampel
d. Timur Laut : Sunan Kalijaga
Alasan mengapa jumlah wali hanya empat
adalah karena diambil perwakilannya saja. Sunan Bonang dan Sunan Ampel mewakili
Jawa Timur, Sunan Gunung Jati mewakili Jawa Barat, dan Sunan Kalijaga mewakili
Jawa Tengah.
8.
Situs kolam Wudlu
Situs Kolam Wudhu letaknya dibagian depan tepat disamping Musium
Masjid Agung Demak. Filosofi Kolam Wudlu
yang dibuat dibagian depan yaitu agar memudahkan Wali dan Jama’ah ketika akan
masuk masjid dianjurkan untuk melakukan wudlu dahulu.
Bangunan
bersejarah ini merupakan tempat wudhu yang pertama dibuat ketika Masjid Agung
Demak berdiri yang mempunyai luas ± 75 m² dan mempunyai kedalam air 3
meter. Sekarang kolam wudhu tidak lagi dipergunakan untuk tempat wudhu dan
dijadikan situs bersejarah yang dikelilingi oleh pagar besi. Pemugaran terakhir
dilakukan pada tahun 1978M.
0 komentar:
Posting Komentar