Senin, 23 Mei 2016

Siapakah Malaikat Itu..???

Diposting oleh Sania Rosyida di 07.59 0 komentar
Beriman kepada Para Malaikat Allah

Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti membenarkan, sedangkan menurut istilah adalah membenarkan dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mempraktekkan dengan amal perbuatan yakni membenarkan tentang adanya Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rosul-rosul-Nya, Hari Akhir, Qodlo’ dan Qodar-Nya, Sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهِ  ۦ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلُّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلَئِكَتِهِ   ۦ وَكُتُبِهِ  ۦ وَرُسُلِهِ  ۦ لَانُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُّسُلِهِ  ۦ ۚ
“Rasul telah beriman dengan apa-apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semua beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, Kami tidak membedakan antara seorang pun dari rasul-rasul-Nya...”(QS.Al-Baqarah[2]:285)
Ayat-ayat diatas menjelaskan kepada kita, bahwa salah satu iman yang diwajibkan Allah adalah beriman kepada para malaikat-Nya. Jika orang hanya mengimani namun tidak menyakini, mema’rifati (mengenal lebih dekat), dan bersahabat dengan para malaikat-Nya, maka keimanan orang tersebut tidak akan pernah sempurna dihadapan Allah, dan itulah kesesatan yang sejauh-jauhnya kesesatan. Menurut para ahli hikah, Beriman kepada para malaikat Allah merupakan penunjang yang amat penyting guna mengiringi takwa dan untuk memperoleh cahaya dalam menempuh perjalanan ruhani menuju alam malakut, jabarut dan lahut. Lalu seberapa pentingkah kita harus beriman kepada para malaikat Allah? Jawabanya adalah sangat penting karena para malaikat telah berjasa besar bagi kelangsungan hidup keruhanian kita disisi Allah, sehingga Allah memerintahkan kita untuk menjalin persahabatan yang baik dengan para malaikat-Nya.
Siapakah Malaikat Itu?
Dalam makna etimologis, kata malaikat berasal dari kata “Malak” yang artinya memiliki, menguasai, dan memerintah. Malaikat adalah hamba Allah SWT yang sangat dekat dan didekatkan kepada-Nya (muqarrabin). Oleh karena itu, hamba ini disebut-Nya sebagai malaikat (al-malik, maharaja), yang sangat kuat dan kental unsur-unsur ketuhanan yang melekat dalam ekstensi dirinya. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Sayyid Sabiq di dalam kitabnya “al-‘Aqidah al-Islamiyyah”, bahwa malaikat adalah hamba Allah yang berada pada kelompok tertinggi (al-mala’ul a’la). Yakni, suatu alam yang halus, gaib, dan tidak dapat dicapai oleh pancaindra. Malaikat diciptakan Allah berasal dari unsur nur (cahaya). Sebagaimana dalam hadits Nabi SAW berikut.
Dari ‘Aisyah Ra., Rasulullah SAW. bersabda: “Malaikat-malaikat itu telah diciptakan dari nur (cahaya), sedang jin telah diciptakan dari percikkan nyala api dan Adam telah diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua.” (HR.Muslim)
Menurut Paham Teologi Ahlus Sunnah wal Jamaah, ada sepuluh malaikat yang harus diimani, yaitu: Jibril As., Mikail As., Israfil As., Izrail As., Raqib As., ‘Atid As., Munkar As., Nakir As., Malik As., dan Ridhwan As. Lebih lengkapnya ada dibawah ini:
1.      Malaikat Jibril As.
Malaikat Jibril As. adalah malaikat yang sangat dipercaya oleh Allah untuk menyampaikan pesan-pesan ketuhanan berupa wahyu dan ilham kepada para nabi, rosul, para kekasih-Nya, dan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Ia juga bertugas sebagai pemimpin seluruh malaikat. Rupa dan bentuk malaikat Jibril telah dijelaskan dalam hadits nabi berikut ini,
Nabi SAW bersabda: “Setelah Allah Ta’ala menciptakan Malaikat Jibril As. dengan rupa yang sebaik-baiknya,dan dia dijadikan untuknya enam ratus sayap, panjang tiap-tiap sayap sejarak antara timur dan barat, maka Jibril memandang kepada dirinya, lalu berkata: “Tuhanku, apakah Engkau telah menciptakan makhluk lain yang lebih indah rupanya dari pada aku?” Allah Ta’ala menjawab: “Tidak”. Maka bangkitlah Jibril, lalu shalat dua rekaat karena rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala. Dia berdiri pada setiap rakaatnya selama dua puluh ribu tahun.”
2.      Malaikat Mikail As.
Malaikat Mikail As. adalah malaikat yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia disisi Rabb-nya. Ia sangat dipercaya oleh Allah SWT. untuk mengatur dan membagikan rezeki dan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk yang ada dibumi, bahkan seekor semut di tengah gurun serta seekor plankton yang hidup di dasar laut pun sudah Allah tentukan rezekinya setiap hari sepanjang hidup dan kehidupannya.
Malaikat mikail juga bertugas sebagai pemimpin para Malaikat Karubbiyun yang menjadi asisten-asisten ahlinya dalam bidangnya masing-masing yang selalu siap melaksanakan segala sesutu yang diperintahkannya yang sesuai dengan perintah Allah SWT kepadanya.
3.      Malaikat Israfil As.
Tugas malaikat Israfil adalah sebagai peniup sangkakala pada hari kiamat. Sebagaimana sabda nabi berikut
Dari Ibnu ‘Abbas Ra., Nabi Saw. bersabda:
“Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, maka Dia ciptakan sangkakala. Sangkakala itu mempunyai lubang dan diberikan Allah Ta’ala kepada Israfil As.,sedang dia meletakkannya pada mulutnya; matanya menatap ke ‘Arsy, menunggu kapan dia diperintahkan (untuk meniupkannya).”
4.      Malaikat Izrail As.
Tugas malaikat Izrail adalah mencabut nyawa semua makhluk, baik manusia, hewan, jin, setan, maupun malaikat sendiri apabila tiba saatnya.  Karena sesungguhnya setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan maut (kematian). Allah SWT berfirman:
قُلْ يَتَوَفَّىكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِى وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ
“Katakanlah: ‘Malaikat Maut yang diserabi tugas untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan kembali.” (QS.As-Sajdah[32]: 11)
Dalam ayat diatas jelas bahwa kematian adalah kepastian. Siapapun pasti akan menghadapi Malaikat Izrail.
5.      Malaikat Raqib As. dan Malaikat ‘Atid As
Dua Malaikat ini diberi julukan Kiraman Katibin. Diriwayatkan bahwa setiap manusia disertai dua malaikat yang berada disebelah kanan sebagai pencatat amal baik tanpa disaksikan yang lain, sedang yang dikiri sebagai pencatat amal tercela, dan tidak dicatat amal-amal tercela tersebut sebelum disaksikan malaikat yang sebelah kanan. Bila seorang manusia sedang duduk, malaikat yang satu berada disebelah kanan, seang yang lain berada disebelah kiri. Bila manusia tersebut sedang bejalan, maka malaikat yang satu berada dedepannya, sedang yang lain berada dibelakangnya. Bila manusia tersebut sedang tidur, maka malaikat yang satu berada disisi kepalanya, sedang yang lain berada dikakinya.
Jadi jelaslah bahwa dimanapun kita berada pasti selalu diikuti oleh kedua malaikat ini, yang selalu mengawasi gerak-gerik atau perbuatan yang kita kerjakan.
6.      Malaikat Munkar As. dan Malaikat Nakir As.
Malaikat yang akan mendatangi si mayat ketika sudah berada dialam kubur adalah malaikat Munkar dan malaikat Nakir. Tetapi, menurut riwayat Abdullah bin Salam, sebelum Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir datang dan bertanya kepada si mayat, ada seorang malaikat yang mendahuluinya, yakni Malaikat Rumman.
Dijelaskan bahwa malaikat tersebut wajahnya sangat bercahaya seperti cahaya matahari. Malaikat Rumman bertugas untuk meminta si mayat menuliskan kebaikan dan keburukannya. Setelah selesai segala halnya, si mayat  akan berhadapan dengan Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir.
7.      Malaikat Malik As.
Malaikat Malik As. bertugas sebagai koordinator bagi para ,malaikat aparatur neraka, dengan menjaga, mengawasi, dan mengatur kelangsungan azab atau siksa Allah yang ditimpakan kepada para ahli neraka. Neraka itu mempunyai pintu-pintu, masing-masing pintu terbagi beberapa bagian untuk golongan laki-laki dan perempuan, sesuai dengan amalan-amalan dosanya.
8.      Malaikat Ridhwan As.
Malaikat Ridhwan As. bertugas sebagai koordinator para malaikat aparatur surga, dan juga bertugas dalam menyambut para ahli surga dengan lembut penuh keramah-tamahan.


Sumber : Rachmad Ramadhana al-Banjari. 2007. Biografi Malaikat. Jogjakarta: DIVA Press.

Sabtu, 21 Mei 2016

Seputar Masjid Agung Demak

Diposting oleh Sania Rosyida di 07.08 0 komentar
Filosofi Benda Bersejarah di Masjid Agung Demak

Bangunan bersejarah yang terdapat di Masjid Agung Demak  tentunya banyak sekali dari berbagai macam. Uniknya bagunan-bangunan tersebut memiliki makna atau maksud masing-masing.
1.      Gambar Bulus
Filosofi dari gambar bulus adalah nek mlebu masjid sing alus, maksudnya disini adalah jika memasuki masjid harus memiliki etika sopan santun dan mematuhi aturan – aturan yang ada di masjid tersebut. Gambar bulus ini merupakan Candra Sengkala Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna 1401 Saka. Gambar  bulus terdiri atas kepala yang berarti angka satu, 4 kaki berarti angka 4, badan bulus berarti angka nol, ekor bulus berarti angka satu.
Dari simbol ini di perkirakan masjid agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shafar. Dan pada tahun 1401 Saka atau 1479 M iniliah masjid agung Demak diresmikan berkenaan dengan pelantikan Sultan Raden Patah.
2.      Atap Masjid
Filosofi dari Atap Masjid adalah bangunannya berbentuk limas dan  terdiri dari tiga tingkatan yang memiliki makna sebagai berikut:
a.       Tingkatan pertama (bawah) disebut iman
b.      Tingkatan kedua (tengah) disebut islam
c.       Tingkatan ketiga (atas) disebut ikhsan
3.      Mustaka
Filosofi Mustaka yaitu melambangkan ma’rifat (pengenalan terhadap sifat-sifat Allah SWT). Bentuknya adalah seperti daun pohon sukun sama dengan bentuk mustaka di masjid-masjid Jawa lainnya yang mencerminkan akulturasi dengan Kebudayaan Hindu.
4.      Maksurah
Maksurah adalah bangunan kecil yang terlatak disebelah kiri pengimaman atau mihrab. Maksurah berfungsi sebagai tempat shalat raja atau penguasa. Terbuat dari kayu jati yang diletakkan diatas landasan pasangan bata. Dilengkapi pula dengan pintu masuk dari sisi utara yang berukuran 67x156 cm.
Filosofi Maksurah adalah didalamnya berukirkan tulisan arab yang intinya memulyakan ke-Esaan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M dimana saat itu adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.
5.      Pintu Bledheg
Pintu yang dipercaya dapat menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
 Filosofi dari pintu bledheg ini adalah nek mlebu masjid ojo nganggo suoro banter koyo bledheg, maksudnya disini adalah jika kita memasuki masjid jangan berbicara dengan nada yang keras seperti petir. Ki Ageng Selo memiliki nama asli Syech Abdurrahman, makam beliau berada di Kabupaten Grobogan Kediri.
6.      Jendela Masjid
Jendela masjid berjumlah enam buah yang memiliki makna Rukun Iman itu jumlahnya ada 6 yaitu : Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat-malaikatNya, Iman kepada Rosul-rosulNya, Iman kepada Kitab-kitabNya, Iman kepada Hari Kiamat, Iman Kepada Qodlo’ dan Qodar.
7.      Soko Tatal/ Soko  Guru
Soko Tatal / Soko Guru, yang berjumlah empat merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Filosofi soko guru berjumlah empat adalah karena mazhab saat ini adalah berjumlah empat yaitu mazhab Syafi`i, Maliki, Hambali, dan Hanafi. Masing – masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm, formasi tata letak soko guru di pancangkan pada empat penjuru mata angin.
a.       Barat Laut       : Sunan Bonang
b.      Barat Daya      : Sunan Gunung Jati
c.       Tenggara         : Sunan Ampel
d.      Timur Laut      : Sunan Kalijaga
Alasan mengapa jumlah wali hanya empat adalah karena diambil perwakilannya saja. Sunan Bonang dan Sunan Ampel mewakili Jawa Timur, Sunan Gunung Jati mewakili Jawa Barat, dan Sunan Kalijaga mewakili Jawa Tengah.
8.      Situs kolam Wudlu
Situs Kolam Wudhu letaknya dibagian depan tepat disamping Musium Masjid Agung Demak.  Filosofi Kolam Wudlu yang dibuat dibagian depan yaitu agar memudahkan Wali dan Jama’ah ketika akan masuk masjid dianjurkan untuk melakukan wudlu dahulu.

Bangunan bersejarah ini merupakan tempat wudhu yang pertama dibuat ketika Masjid Agung Demak berdiri yang mempunyai luas ± 75 m² dan mempunyai kedalam air 3 meter. Sekarang kolam wudhu tidak lagi dipergunakan untuk tempat wudhu dan dijadikan situs bersejarah yang dikelilingi oleh pagar besi. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 1978M. 

Kamis, 19 Mei 2016

Tahukah kamu hai orang jawa??

Diposting oleh Sania Rosyida di 21.52 0 komentar
Tradisi Jawa dalam Pengurusan Jenazah
Di Indonesia khususnya juga terdapat beragam bentuk kebudayaan karena memiliki suku bangsa yang beragam pula. Salah satu suku bangsa yang terdapat di Indonesia adalah suku Jawa yang memiliki bentuk kebudayaannya sendiri yaitu kebudayaan Jawa. Dalam kebudayaan Jawa terdapat nilai-nilai serta norma-norma yang dipakai dan dipatuhi serta diwariskan secara turuntemurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai budaya yang menjadi pandangan hidup orang Jawa kemudian mengendap dalam tradisi dan adat-istiadat yang dipegang teguh dan terwujud dalam salah satunya yaitu upacara-upacara adat (Thomas Wiyasa Bratawidjaja, 2000: 9). Adapun tradisi jawa didalam pengurusan Jenazah ialah sebagai berikut:
1.      Upacara Brobosan
Sebelum jenazah diberangkatkan ke makam dilakukan suatu upacara yang disebut dengan “upacara brobosan”. Upacara brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua atau keluarga mereka (jenazah) yang telah meninggal dunia. Upacara brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal sebelum dimakamkan dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua. Namun sebelum upacara dilakukan, biasanya diawali dengan beberapa sambutan dan ucapan belasungkawa oleh beberapa pamong desa. Dan semua yang hadir ditempat itu harus berdiri hingga jenazah benarbenar diberangkatkan.  Upacara brobosan tersebut dilangsungkan dengan tata cara sebagai berikut:
a.       Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai.
b.      Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam.
c.       Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.
Setelah itu jenazah diberangkatkan dengan keranda yang diangkat oleh anakanaknya yang sudah dewasa bersama dengan anggota keluarga pria lainnya, sedangkan seorang memegang payung untuk menaungi bagian dimana kepala jenazah berada. Adapun urutan untuk melakukan perjalanan ke pemakaman juga diatur. Yang berada diurutan paling depan adalah penabur sawur (terdiri dari beras kuning dan mata uang), kemudian penabur bunga dan pembawa bunga, pembawa kendi, pembawa foto jenazah, keranda jenazah, barulah dibagian paling belakang adalah keluarga maupun kerabat yang turut menghantarkan. Namun dalam keyakinan orang Jawa, seorang wanita tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman. Jadi mereka hanya boleh menghantarkan sampai didepan pintu pemakaman saja. Dan mereka yang masuk hanyalah kaum pria tanpa memakai alas kaki.
2.      Penggunaan Uborampe
Dalam melaksanakan upacara kematian tentu menggunakan uborampe yang berbeda dengan upacara adat-upacara adat yang lain. Uborampe merupakan perlengkapan dalam upacara kematian, mulai dari uborampe pangrukti layon sampai uborampe panguburing layon, yaitu perlengkapan merawat jenasah sampai perlengkapan penguburan jenasah.
Sebagai bagian dari kebudayaan Jawa, uborampe dapat menjadi sarana atau wadah yang dapat membawa dan menyampaikan ide-ide atau pandangan hidup masyarakat yang memiliki kebudayaan itu, yakni Masyarakat Jawa, sebab dalam kebudayaan jawa, perilaku Orang Jawa yang mencerminkan nilai-nilai dan ide-ide itu selalu terwujud melalui dua tataran yaitu lugas dan simbolis, sedangkan uborampe berada pada tataran simbolis sehingga melalui Uborampe yang digunakan dalam upacara kematian tersebut dapat diketahui bagaimana masyarakat Jawa memahami, menghayati, serta memandang hal-hal yang berkaitan dengan kematian manusia. Kematian dalam istilah budaya merupakan suatu peralihan, yaitu peralihan individu dari alam hidup ke alam gaib.
Uborampe kematian sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna, atau kalaupun beberapa dari uborampe itu setidaknya memiliki manfaat dalam hal pengurusan jenazah biasanya telah diganti dengan benda yang lebih maju (maksudnya tidak menggunakan benda tradisional). Tentu hal ini tidak menjadi masalah selama makna dari uborampe itu tidak hilang begitu saja. Masalah tersebut biasanya disebabkan karena perihal penggunaan beberapa uborampe tersebut tidak ada tuntunannya dalam agama yang dianut masyarakat. Sehingga satu-satunya alasan dari beberapa masyarakat masih menggunakan uborampe kematian sesuai Adat Jawa adalah karena kebiasaan atau sekedar tradisi. Hal ini tentu sudah menunjukan bahwa pengetahuan masyarakat akan makna dari uborampe kematian sudah berkurang.
3.      Memayungi Jenazah
Biasanya saat jenazah ingin diberangkatnya biasanya akan dipayungi dengan payung jenazah. Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang diwariskan turun-temurun, lalu bagaimanakah hukum memayungi jenazah?
Di dalam sebuah artikel yang saya temukan di internet (http://www.pissktb.com/2013/08/2587hukummemayungijenazahsaat.html), ada yang mengatakan bahwa memayungi kuburan hukumnya ialah makruh. Kalau hanya memayungi dirinya atau memayungi mayatnya disaat pemakaman, tidak masalah aliyas tidak makruh. Bahkan ketika ihrampun tidak apa memakai payung, karena bukan termasuk larangan menutup kepala. Sesuai dengan hadits berikut:
وَحَدَّثَنِى سَلَمَةُ بْنُ سَبِيبٍ  حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ اَعْيَنَ حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أبِي اُنَيْسَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ حُصَيْنٍ عَنْ جَدَّتِهِ أُمِّ الْحُصَيْنِ قَالَ سَمِعْتُهَا تَقُوْلُ حَجَجْتُ مَعَ رَسُو لُ اللهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ حَجَّتَ الوَدَاعِ فَرَاَيْتُهُ حِيْنَ رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ وَانْصَرَفَ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَمَعَهُ بِلَالٌ وَاُسَمَةُ اَحَدُهُمَا يَقُوْدُبِهِ رَاحِلَتَهُ وَلآخَرُ رَافِعٌ ثَوْبَهُ عَلَى رَأْسِ رَسُو لِ اللهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مِنَ الشَّمْسِ.
"Dan telah menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin A'yan Telah menceritakan kepada kami Ma'qil dari Zaid bin Abu Unaisah dari Yahya bin Hushain dari kakeknya Ummul Hushain, ia berkata, saya mendengar mendengarnya berkata; Aku ikut menunaikan haji bersamasama dengan Rasulullah SAW ketika haji wada'. Aku melihat ketika beliau melempar Jamrah Aqabah. Sesudah itu, beliau pergi dengan kendaraannya bersama Bilal dan Usamah; yang satu memegang tali Unta, dan yang satu lagi memayungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan bajunya dari terik matahari. (SHAHIH MUSLIM)
4.      Talqin Mayyit
Talqin mayyit merupakan warisan dari agama Islam yang telah berkembang dan menjadi tradisi pada masyarakat jawa. Sebetulnya masalah Talqin dengan segala macam persoalannya itu sudah dikupas oleh para ulama mutaqaddimin atau ulama mutaakhirin dalam berberapa kitab/karya tulisnya dan selalu diamalkan oleh kaum Ahlussunnah wal Jamaah secara turun temurun. Akan tetapi amaliyah warga kita tadi menjadi terancam kelangsungannya sejak munculnya gerakan yang dimotori oleh kaum wahabi yang sangat berlebihan dalam usaha memurnikan ajaran Islam, sampai-sampai mereka itu melarang amalanamalan umat Islam yang bersifat furu’iyah, misalnya : tahlilan, bancakan, dan talqin untuk mayit.
Adapun dalil tentang disunatkannya mentalqin kepada seseorang yang sedang naza’ adalah hadits Nabi SAW. seperti yang ditulis oleh sayyid Bakri dalam kitab I’anatut Thalibin juz II hal. 138 :
ويندب أن يلقن محتضر ولو مميزا على الأوجه الشهادة أي لا اله الا الله فقط لخبر مسلم : لقنوا موتاكم أي من حضرة الموت لا اله الا الله, مع الخبر الصحيح : من كان أخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة أي مع الفائزين. اه
Artinya : “Disunatkan mentalqin orang yang akan meninggal walaupun masih mumayyiz menurut pendapat yang kuat dengan kalimat syahadat, karena ada hadits Nabi riwayat Imam Muslim “talqinlah orang Islam di antara kamu yang akan meninggal dunia dengan kalimah La Ilaha Illallah” dan hadits shahih “Barang siapa yang paling akhir pembicaraannya itu La Ilaha Illallah, maka dia masuk surga”, yakni bersama orang-orang yang beruntung”.
5.      Selamatan sesudah pemakaman
Dalam upacara kematian sesudah pemakaman biasanya diadakan upacara selametan atau wilujengan yang maksudnya untuk keselametan baik untuk roh si mati supaya diterima di akhirat nanti, maupun untuk keluarga yang ditinggalkannya. Adapun perincian upacara selametan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Soartanah. Soartanah maksudnya menggusur tanah yaitu tanah yang dipakai untuk memakamkan jenazah. maknanya dengan selametan ini agar arwah atau roh si mati mendapat jalan yang terang dan tempat yang lapang. materi yang disajikan : tumpeng yaitu nasi dibentuk kerucut asahan diatas rempah lengkap dengan lauk pauk jangan adem atau sayur adem. pecel dengan sayatan daging ayam goreng atau panggang, sambel dongseng dengan kedelai yang terkelupas. jangan menir kerupuk dan rempeyek. satu hal yang penting dalam hal ini adalah tumpeng yang harus dibelah dua dan ditaruh dalam posisi bertolak belakang terkenal dengan saburan tumpeng pengkur atau ungkurungkuran.hal ini sebagai lambang anatra si mati dengan keluarga yang ditinggalkan. juga agar kedua belah pihak mendapat keselamatan.
Pelaksanaan soartanah ini adalah setelah pemakaman. boleh siang atau malam hari. Pimpinan upacara dalam hal ini adalah mudin selaku pimpinan dan pemabawa doa, selain menerima bagian berkat juga menerima uang wajib sekadarnya. sedang sesajian untuk si roh mati berupa nasi sepiring utuh atau sayo sak kenong, dua bulatan nasi golong, kembang setaman, dupa atau kemenyan, ubur merhah putih dan lampu seatir ditemaptkan di dalam rumah tertentu.
b.      Nelung dino atau tiga hari, Pelaksanaan di siang hari yang dihadiri tetangga dan ahli waris. Materi yang dihidangkan yaitu : takir pontang yang berisi nasi kuning atau sego punar dan nasi putihdengan lauk pauk daging srundeng gambingan, kecambah, kacang pangjang, yang telah di potongpotong, irisan brambah dan irisan apem. semuanya di taruh di sudi (dari daun pisang) selain itu juga nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, jangan menir, dan sambal santan.
c.       Pitung dino atau tujuh hari, pitung dino menujukkan dilaksanakan berselang tujuh hari setelah pemakaman cuma waktu siang hari dan dihadiri oleh kerabat dan tetangga, materi yang dihidangakan berupa apem, ketan dan kolak dalam takir serta nasi asahan dengan lauk pauk daging goreng, pindang, jerohan dan krupuk. sedang maksud dan tujuan masih sama dengan telung dino. begitu pula sesaji untuk oh si mati.
d.      Matang puluh dino. matang puluh dino dilaksanakan 40 hari sesudah pemakaman, boleh siang, sore namun biasannya pada malam hari dan diundang para santri, materi yang disajikan sama dengan pitung dino.
e.       Nyatus dino. rangkain upacara selametan hampir sama dengan rangkain upacara selametan matang puluh dino.
f.        Mendak pisan. yaitu setiap satu tahun upacara. materi hidangan maupun ujub sama dengan matangpuluh dino.
g.      Mendak pindho. setiap 2 tahun semua rangkain upacara selametan juga sama dengan matang puluh dino.

h.      Nyewu dino pada umumnya upacara ini merupakan upacara terakhir yang wajib dilaksanakan dalam rangkain upacara selametan yang keseribu setelah kematian. penyelenggaran lebih besar dari upacara selametan sebelumnya. sedang mengenai materi hidangan tetap sama seperti rangkain upacara selametan sebelumnya. dengan tambah daging kambing yang disembelih sendiri. sebelum disembelih kambing dimandikan dengan air kembang setaman dan rambutnya dikeramas dengan air lada, dan tubuhnya diselimuti dengan kain putih di kalungi dengan untaian bunga dan diberi makam daun sirih makanannya. makna yang sudah ditangkap mereka adalah sebagi pikiran kendaraan orang yang meninggal. perlengkapan yang harus disediakan pada upacara selametan ini yaitu : tikar pandan, kaca kecil, kapas, kemenyan, dua sisir pisang raja, gula kelapa, sebutir kelapa satu takir beras, buanga dan boreh. perlengkapan ini semua ditaruh dalam wadah dan disajikan di tempat kenduri yang nantinya menjadi baguian para santri kecuali para santri itu menerima berkat. isi ujub dan uborampe lain tetap sama dengan ketika matang puluh dino.

Selasa, 17 Mei 2016

MISTERI DI BALIK MAKAN SAMBIL BICARA

Diposting oleh Sania Rosyida di 15.48 0 komentar
MISTERI DI BALIK MAKAN SAMBIL BICARA

Ketika membahas tentang makan sambil bicara, sering terlintas dibenakku yang selalu bertanya-tanya sebenarnya makan sambil bicara itu boleh atau tidak ya?. tetapi mengapa secara turun-temurun papatah jawa mengatakan bahwa “ojo mangan mbi ngomong amergo ora ilok”, dalam pepatah tersebut kita dilarang makan sambil bicara karena banyak menimbulkan dampak negatif, seperti:
1.      Tersedak makanan yang masuk ke tenggorokkan
Saat kita sedang berbicara katup pada tenggorokkan akan terbuka dan mengalihkan makanan kita yang seharusnya masuk ke kerongkongan malahan beralih ke tenggorokan dan akhirnya kita tersedak. apalagi jika banyak orang pasti ita malu banget arena batuk-batuk akibat tersedak.
2.      Selera makan akan hilang
Jika seseorang telah keasikan berbicara atau bergosip, biasanya mereka akan hilang selera makannya karena terlalu serius akan obrolan mereka sendiri. Hal tersebut tentunya berdampak pada diri sendiri, misalnya jika sesorang telah hilang selera makannya pasti akan timbul rasa malas untuk makan sehingga dapat menjadikan badannya kurus.
Suatu ketika saya menyaksikan berita di televisi yang sangat bermanfa’at buat saya karena pada akhirnya saya menemukan hukum makan sambil bicara. Didalam berita tersebut dijelaskan bahwa makan sambil bicara itu dianjurkan dari pada makan sambil diam saja, tetapi dengan catatan yang dibicarakan adalah hal-hal yang berbau positif, misalnya: dengan memuji Asma Allah SWT. Sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW berikut ini:
Ibnul Muflih menyebutkan keteragan Ishaq bin Ibrahim,
تعشيت مرة أنا وأبو عبد الله وقرابة له فجعلنا لا نتكلم وهو يأكل ويقول الحمد لله وبسم الله، ثم قال أكل وحمد خير من أكل وصمت ولم أجد عن أحمد خلاف هذه الرواية صريحا ولم أجدها في كلام أكثر الأصحاب، والظاهر أن أحمد – رحمه الله – اتبع الأثر في ذلك فإن من طريقته وعادته تحري الاتباع
“Suatu ketika aku makan malam bersama Abu Abdillah yaitu Imam Ahmad bin Hanbal ditambah satu kerabat beliau. Ketika makan kami sedikit pun tidak berbicara sedangkan Imam Ahmad makan sambil mengatakan alhamdulillah dan bismillah setelah itu beliau mengatakan, “Makan sambil memuji Allah itu lebih baik daripada makan sambil diam.” Tidak aku dapatkan pendapat lain dari Imam Ahmad yang secara tegas menyelisihi nukilan ini. Demikian juga tidak aku temukan dalam pendapat mayoritas ulama pengikut Imam Ahmad yang menyelisihi pendapat beliau di atas. Kemungkinan besar Imam Ahmad berbuat demikian karena mengikuti dalil, sebab di antara kebiasaan beliau adalah berupaya semaksimal mungkin untuk sesuai dengan dalil.” (Adab Syariyyah, 3/177).
Berdasarkan hadis tersebut, para ulama menganjurkan untuk berbicara ketika makan. Terutama pembicaraan yang isinya pujian terhadap makanan dan pujian kepada Allah yang memberi makan.
Lalu bagaimana jika ada orang yang mencela makanannya sendiri?, mencela makanan jelas telah diarang Rosulullah SAW, karena sesungguhnya Rosulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai makanan tersebut maka segera menyantapnya dan jika beliau tidak menyukainya, Rosulullah tidak pernah berkomentar tidak baik terhadap makanan tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata,
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Jika beliau mau, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau meninggalkannya.” [HR al-Bukhoriy: 5409, Muslim: 2064 dan Abu Dawud: 3763. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].
Maksudnya ialah jika kita merasakan ada yang kurang dalam makanan yang kita makan sebaiknya jangan berkomentar apa-apa lebih baik tinggalkan saja makanan tersebut dan jangan memakannya lagi, dan jangan sekali-kali berucap makanan apa ini rasanya nggak enak banget, kurang inilah kurang itulah dsb.
Jadi kesimpulannya adalah jika kita merasakan kenikmatan/kelezatan pada makanan yang kita makan sebaiknya kita memujinya tetapi jika kita merasakan ketidakpuasan pada makanan tersebut janganlah mencelanya, akan lebih baik jika kita tidak memakannya atau meninggalkannya.





 

Semoga Bermanfaat Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting